By Mike Rahman aka. Nieph Kucrut
Ini cerita mengerikan tentang saya dan rok saya, yang berwarna abu
abu
Saya dan rok abu abu saya yang sudah robek sana
sini
Terkena infeksi dari senyawa mengerikan bernama
waktu
Tiga tahun, muatan senyawa itu.
3x365x24x60x60
Itu
rumus empiris reaksi senyawa itu.
Oh tidak, bukan saja
merobek rok saya,
Ia memasukkan banyak hal ke otak saya yang
kecil
Dan hanya ke otak kiri saya. (yang sangat lebih kecil
dari otak kanan saya)
Trigonometri.Vektor.Listrik
Dinamis.Biloks.Elektrolisis.Getaran.Struktur DNA…
Oh
shit, dimana saya ingat judul bab nya saja sudah sangat
hebat.
Tangan saya bergetar dan berbau tinta
pulpen faster, itu efek sampingnya.
Oh dan ketergantungan pada
kertas buram dan cahaya fotokopi.
Kembali ke rok abu
abu saya itu, yang mempunyai teman si kemeja putih
Seperti
gabungan suster dan hansip, putih polos tapi banyak tempelan
Mmmm
mungkin tidak putih polos, kalau kita balikkan ujung
bawahnya..
Banyak mm hhmmm coretan coretan
seperti..
W=e.t.i/96500, hmm atau
Luas
daerah=∫ <f(x)>², hmm atau..
08112… mm hmm
*skip
Anyway, infeksi itu juga membawa saya,si
rok dan si kemeja ke lorong panjang coklat
Dan ruang ruang
berlangit langit tinggi
Dengan papan tulis putih dan sosok
menjulang yang berbicara terus di depannya
Oh dan meja kusam
penuh tip ex yang nyaman untuk merebah kepala dan
melamun
Lalalalalalalala apa ini Cuma halusinasi dari infeksi
itu?
(Ah bukan, halusinasi tidak semembosankan
ini)
Dan saat si sosok bernarasi tentang penyihir2
jahat bernama sin, cos, dan tan,
(fyi, ceritanya
tidak seru)
Saya melayangkan pandang keluar
jendela, dimana pohon-pohon tertawa centil
“ayo anshh,
sini keluarr. kita main aja.menari narii. Anginnya enak
sekaliii.”
(yah, sampai disini ternyata
infeksi itu menimbulkan halusinasi berlebihan juga)
Mereka
menjatuhkan daun2nya yang tua dan kuning, semakin menggoda
Saya
sudah semakin gila, dan ingin menghambur keluar lewat jendela
(dan
yah, dicap “anak-terbelakang-hiperaktif” besoknya)
Tapi
oh tapi, tiba-tiba mata saya terantuk pada benda hitam
menjulang
Dengan tulisan putih berkilat-kilat diatasnya yang
sangat mengintimidasi
“KNOWLEDGE IS POWER, BUT
CHARACTER IS MORE”
……
shit.
Maaf kawan-kawan pohon, saya masih punya
karakter dan masih ingin dianggap punya.
Apalah manusia tanpa
karakter, kawan? Hanya kumpulan daging menempel di tulang.
Ahh
sudahlah, tahu apa pohon-pohon centil itu tentang karakter!
Huh.
(dan kita dapat menarik kesimpulan, bicara pada
sesuatu yang seharusnya tidak bicara itu tidak baik)
Saya
mengalihkan pandangan pada makhluk sebelah saya,
Mengenakan
kacamata dan tangannya produktif sekali,
Dari narasi sang sosok
tentang penyihir2, itu ia membuat ringkasan ceritanya
Atau
menulis ulang semuanya? Ah tidak tahulah saya.
Mata saya
terpaku pada hasil karyanya yang semarak,
Bulatan bulatan dan
garis garis dengan warna neon stabilo
AHHH saya ingin punya,
mungkin bisa berguna!
Bisa dipakai untuk menghiasi catatan
bersampul kopi saya yang kosong melompong
Tapi.. lelah sekali
kalau harus membuat ulang yang seperti itu.
HMMMM~ di
otak saya berkelebat cahayacahaya sekejap berwarna putih,
Dan
bau keringat mas-mas dan kertas baru.
OHH MESIN FOTOKOPI
TERCINTA~ tunggu aku saat bel istirahat berdering ya!
(ahh
dan juga keripik pedas untuk diselundupkan ke kelas kimia ;p)
Oh
oke, semua ini membuat saya pusing,
Hmmm mmm,
Bisa
dibilang, infeksi ini juga..
Hmmm mmm,
Membuat
kita sering mengantuk.. (hahaa ternyata selain enak ditulisi
kertas buram bisa jadi alas tidur..)
Hmmm
mmm,
Sangat mengantuk… (aduh, tutup pulpen faster
saya hilang. Ahh. tintanya meleber.. hh sudahlah)
Hmmm
mmm,
Dan penyihir-penyihir jahat itu, si SINUS,
COSINUS, dan TANGEN dimakan naga dan membusuk diamuk asam lambung si
naga.
(Ahhh, ternyata happy ending.)
Hmmmm
mmmm, zzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzzz….
(Sebuah
tulisan di atas meja kayu penuh tip ex, sambil merebahkan kepala)